Selasa, 24 Januari 2017

LAPORAN KULIAH LAPANGAN FISIOLOGI HEWAN
SYARAF
Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum fisiologi hewan yang di ampu oleh Siti Nurkamilah M.Pd.
Kelompok 5
3B      
Mia Ratnasari              (14541053)
Siti Solihah                  (14541055)
Sofi Yulianti               (14541056)
Hasni safitri                 (14542001)
Muhamad Hasanudin (14542004)
Ajeng Nur Aropah      (14542000)
Neng Ulpah Hasanah  (14542039)
Description: D:\Document\logo stkip.jpeg

LABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) GARUT
2017

LAPORAN KULIAH LAPANGAN FISIOLOGI HEWAN UPI BANDUNG
SISTEM SARAF (REFLEKS PADA Rana pipiens)
A.    Tujuan
1.      Untuk mempelajari refleks normal dan spinal pada katak normal
2.      untuk mempelajari refleks spinal pada katak yang di dekapitasi
3.      mempelajari refleks tendon pada patella manusia
B.     Landasan Teori
Sistem saraf mengintegrasikan dan mengkoordinasikan fungsi-fungsi jaringan lain dalam tubuh. Jaringan saraf terdiri atas macam-macam jenis sel neuron dan sel glia yang berasal dari neuroepitel embrional. Sistem saraf sebenarnya dua sistem yang struktur dan fungsi saling berhubungan. Sistem saraf pusat (SSP) yang mencakup otak dan medula spinalis, dan sistem saraf tepi (SST), yang mencakup saraf dan ganglion yang terbesar diseluruh bagian tepi tubuh. Neuron merupakan dasar unsur sel sistem saraf. Struktur neuron sangat bervariasi. Sel glia seperti glia seperti astrosit dan sel Schwann, melakukan fungsi tambahan yang tidak berkaitan dengan komunikasi. Sinapsis adalah tempat hubungan anatomik dan fungsional antarneuron ( Johnson, Kurt E. , 1994: 215).
Lintasan impuls saraf dari reseptor sampai efektor disebut lengkung refleks. Apabila suatu saraf diberi rangsangan , maka sel saraf akan merespon yaitu mengubah energi rangsangan menjadi energi elektrokimia  impuls saraf yang akan dirambatkan sepanjang serabut saraf. Rambatan impuls saraf ini tidak dapat diamati dengan mata seperti kontraksi otot (Nukmal, Nismah, 2012 :14). Saraf spinal timbul dari saraf tunjang sebagai sebuah akar dorsal dan akar ventral yang kemudian bersatu membangun saraf spinal.Pada akar dorsal terdapat ganglion spinal dan akar dorsal ini terutama sensoris., sedangkan akar ventral motoris. Tidak jauh sesudah munculnya kanalis vertebralis, setiap saraf spinal sekurang-kurangnya akan pecah menjadi dua cabang. Sebuah ramus dorsal mensuplai otot epaksial dan kulit punggung. Sistem saraf otonom merupakan bagian dari sistem saraf periferi yang mengontrol aktivitas lingkungan dalam yang biasanya involuntary, seperti denyutan jantung, gerakan peristaltik dan berkeringat. Dibangun oleh neuron motoris yang menuju otot polos di organ-organ interna. Sistem saraf otonom terdiri atas neuron preganglionik yang meninggalkan sistem saraf pusat melalui akar ventral dari saraf segmental sebelum mengadakan sinapsis dengan neuron postganglionik yang menuju ke efektornya. Terdapat 2 bagian dari sistem saraf otonom yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis (Nurcahyani,Nuning,  2005 : 62-66).
Sel saraf bekerja dengan cara menimbulkan dan menjalarkan impuls (potensial aksi). Impuls dapat menjalar pada sebuah sel saraf, tetapi juga dapat menjalar ke sel lain dengan melintasi sinaps. Penjalaran impuls melintasi sinaps dapat terjadi dengan cara transmisi elektrik atau transmisi kimiawi (dengan bantuan neurotransmitter) (Isnaeni, 2006: h. 82). Komunikasi antara satu neuron dengan neuron lainnya atau dengan otot dan kelenjar melalui proses transmisi sinaptik. Pada transmisi sinptik terjadi sinaps (hubungan) dimana akson dari suatu neuron sel presinaps akan berhubungan dengan dendrit, akson, atau badan sel neuron postsinaps. Terdapat dua jenis transmisi sinaptik: transmisi sinaptik elektrik dan transmisi sinaptik kimiawi (Halwatiah, 2009: h. 29).
Menurut (Pratama, 2012) berdasarkan fungsinya sistem saraf dapat dibedakan atas tiga jenis :
1)    Sel saraf sensorik adalah sel saraf yang membawa impuls berupa rangsangan dari reseptor (penerima rangsang), ke sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik disebut dengan sel saraf indera, karena berhubungan dengan alat indera.
2)   Sel saraf motorik adalah sel saraf yang membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju ke atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar, terhadap suatu stimulus tertentu.  Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron, membentuk suatu busur refleks.  Dua neutron aferen, sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris , atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di antara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) , sehingga menyebabkan otot lutut terentang. Kenyataan bahwa aksi refleks ini tidak memerlukan kontrol kesadaran dapatlah ditunjukkan dengan seekor hewan, misalnya katak, yang otaknya telah diambil dengan cara memotong korda spinalis. Seekor hewan yang telah diputuskan kolumna spinalisnya disebut hewan spinal, karena semua aktivitas arah kandal dari lokasi pemotongan itu pastilah hanya karena korda spinalisnya, tidak lagi ada hubungan dengan otak. Katak amatlah berguna untuk mendemostrasikan refleks spinal karena periode shock spinal yang menghilangkan aktivitas refleks dan membuat katak menjadi lumpuh, berlangsung hanya dalam beberapa menit saja. Setelah pulih dari shock spinal, hewan akan menarik sebuah kakinya apabila diberi stimulus seperti misalnya rangsangan listrik atau diberi sedikit asam lemah (Frandson, 1992 :158 ).
Sel saraf penghubung disebut juga dengan sel saraf konektor. Hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensoris ke sel saraf  ke sel saraRefleks terjadi lewat suatu lintasan tertentu disebut lengkung refleks, dengan komponen reseptor, neuron sensorik, neuron penghubung (di dalam otak dan medulla spinalis), neuron motorik dan efektor. Sebagian besar merupakan refleks yang rumit, melibatkan lebih dari satu neuron penghubung (Tim Dosen, 2012: h. 8).
Menurut (Hala, 2007: h. 88) fungsi utama sistem saraf adalah :
1.     Untuk mendeteksi, menganalisa, menggunakan, dan menghantarkan semua informasi yang ditimbulkan oleh rangsang sensoris (seperti panas dan cahaya) dan perubahan mekanis dan kimia yang terjadi di dalam lingkungan internal dan eksternal.
2.    Untuk mengorganisir dan mengatur, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian terbesar fungsi tubuh, terutama kegiatan motoris, visceral, endokrin dan mentalf motorik.
Pada tingkat yang paling sederhana, organisasi sistem saraf hanya tersusun atas sebuah neuron dengan dendrit dan akson.Meskipun masih sangat sederhana, dengan susunan sistem saraf yang demikian ternyata hewan mampu menanggapi berbagai perubahan di lingkungannya (Isnaeni, 2006: h. 78). Neuron tersusun dalam sirkuit yang terdiri dari dua atau atau lebih jenis fungsional. Sirkuit neuron yang paling sederhana hanya melibatkan sinapsis antara dua jenis neuron, neuron sensoris dan neuron motoris. Masing-masing neuron sensoris mengirimkan sinyal dari reseptor sensoris ke neuron motoris, yang selanjutnya mengirimkan sinyal ke efektor. Hasilnya seringkali adalah suatu respons otomatis yang sederhana, yang disebut refleks (Campbell, 2004: h. 202).
Gerak refleks merupakan respon yang cepat dan tidak disadari terhadap perubahan lingkungan interna maupun eksterna. Refleks dikendalikan oleh sistem saraf yaitu otak (disebut refleks kranial) atau medula spinalis (disebut refleks spinal) lewat saraf motorik kranial dan spinal. Saraf kranial dan saraf spinal dapat berupa saraf somatik yang mengendalikan refleks otot kerangka atau saraf otonom yang mengendalikan refleks otot plos, jantung dan kelenjar. Meskipun refleks spinal dapat terjadi tanpa keterlibatan otak, tetapi otak seringkali memberikan pertimbangan dalam refleks spinal. Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar, terhadap suatu stimulus tertentu.  Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron, membentuk suatu busur refleks.  Dua neutron aferen, sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris , atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di antara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) , sehingga menyebabkan otot lutut terentang.
Pada dasarnya semua sel memiliki sifat iritabilitas, artinya sel dapat menanggapi (merespon) rangsangan yang sampai kepadanya. Sifat tersebut tampak masih sangat menonjol pada sel otot dan sel saraf. Sel otot akan menunjukkan respon apabila padanya diberi rangsangan lewat saraf atau langsung pada otot. Respon yang ditunjukkan oleh sel otot umumnya berupa kontraksi otot, sedangkan respon yang pada sel saraf tidak dapat diamati, sebab berupa proses pembentukan potensial aksi yang kemudian dirambatkan berupa impuls. Adanya respon sel saraf hanya dapat diamati pada efektornya.
C.    Alat dan bahan
1.      Alat
No.
Alat
Gambar
1.
Akuarium

2.
Bak bedah

3.
Statif

4.
Rantai penggantung

5.
Sonde / pengaduk gelas

6.
Gunting bedah

7.
Palu

8.
Kursi


2.      bahan
No.
Bahan
Gambar
1.
Satu ekor katak

2.
Larutan HNOencer

3.
Larutan H2SO4 1%

4.
Larutan H2SO4 3%

5.
Larutan H2SO4 5%

6.
Larutan HNOpekat

7.
Larutan fisiologis (NaCl 0,6%)


D.    cara kerja
Refleks pada Katak
1.      katak normal
a.       peganglah katak yang masih hidup dengan tangan kiri dan genggamlah kedua kaki belakangnnya, kemudia dekatkan gelas pengaduk atau sonde pada dareah mata. Amati refleks yang terjadi!
b.      Sentuh nares eksterna pada katak tersebut dan perhatikan gerakannya.
c.       Usaplah bagian tenggorokan sampai bagian perut dan perhatikan gerak anggota badan anterior.
d.      Goreslah atau sentuhlah bagian lateral atau dorsal tubuh katak, apakah katak tersebut berbunyi!
e.       Peganglah kedua kaki depannya dan biarkan kedua kaki belakang bebas, kemudia goreskan gelas oengaduk atau sonde yang telah dicelupkan kedalam HNO3 encer pada punggungnya. Amati apa yang terjadi!
f.       Lakukan perlakuan seperti poin e dengan menggunakan larutan :
- H2SO4 1%
- H2SO4 3%
- H2SO4 5%
Perhatikan apa yang terjadi!
2.      Katak yang telah didekapitasi
Seekor katak yang telah dihilangkan otaknya disebut katak yang hanya memiliki spinal (spinal frog) atau katak didekapitasi.
a.       Masukan gunting bedah pada mulut katak dan angkat kepalanya, kemudian guntinglah dibawah membran timpani.
b.      Tutuplah ujung potongan tersebut dengan kapas dan gantung katak tersebut pada katak statif dengan mengkait rahang bawahnya.
c.       Tetesi kapas dengan larutan fisiologis (NaCl 06%) agar kesadarannya pulih kembali.
d.      Setelah katak siuman, masukan katak tersebut kedalam akuarium, perhatikan gerakannya.
e.       Terlentangkan katak pada bak bedah perhatikan apakah katak berusaha untuk membalikan badannya atau tidak.
f.       Letakkan katak pada bidang miring, perhatikan gerakannya.
g.      Gantunglah katak pada bagian rahang bawahnya.
h.      Lakukan sumasi dengan rangsang dengan zat-zat kimia seperti berikut :
-sediakan 13 beaker yang masing-masing berisi larutan H2SO4 1%.3% dan 5%.
-celupkan ujung jari katak pada larutan H2SO4 1%, 3% dan 5% secara berurutan.
-ulang beberapa kali sampai terjadi respon.
i.        Sentuhlah jari kaki belakang dengan sonde yang sudah dipanaskan. Perhatikan reaksinya.
j.        Sentuh pula bagian ventral atau perutnya dengan sonde yang sudah dipanaskan. Bagaimana reaksinya.
Refleks pada manusia
a.       Duduklah seorang praktikan pada kursi dan biarkan salahsatu kakinya dalam keadaan bebas atau santai;
b.      Pukullah ligamentum patellanya di bawah tempurung lutut dengan palu atau alat pemukul lainya;
c.       Perhatikan gerakan kaki tersebut



E.     Hasil Pengamatan
1.      Katak normal
Jenis rangsang
Tanggapan yang diberikan
Keterangan
Sentuhan sonde/pengaduk
Mata mengedip dan membuka menjadi bulat serta membrane niktitans nya dapat terlihat
Ada respon
Sentuhan nares eksterna
Berkedip dan bergerak
Ada respon
Usapan bagian tenggorokan sampai perut
Tidak berbunyi
Tidak ada respon
Goresan sonde pada bagian ventral dan dorsal
Kakinya meloncat dan tubuhnya bergerak
Ada respon
Goresan sonde yang telah dicelupkan pada larutan HNO3
Badan, kaki, dan tangan bergerak.
Ada respon
Goresan sonde yang telah dicelupkan pada larutan H2sO4 1 %
Reaksi pada ujumg jari dari terbuka menjadi rapat
Ada respon
Goresan sonde yang telah dicelupkan pada larutan H2sO4 3 %
Reaksi pada ujung jari dari terbuka menjadi lebih rapat
Ada respon
Goresan sonde yang telah dicelupkan pada larutan H2sO4 5 %
Reaksi pada ujumg jari sangat cepat dari terbuka menjadi lebih rapat
Ada respon

2.      Katak yang telah didekapitasi
Jenis rangsang
Tanggapan yang diberikan
Keterangan
Akuarium
Tidak berenang
Tidak ada respon
Diterlentangkan
Tidak membalikan diri
Tidak ada respon
Disimpan dibidang miring
Tidak bergerak
Tidak ada respon
Ujung jari katak dicelupkan pada larutan H2SO4 1 %
Tidak bereaksi apa-apa
Tidak ada repon
Ujung jari katak dicelupkan pada larutan H2SO4 3%
Tidak bereaksi apa-apa
Tidak ada respon
Ujung jari katak dicelupkan pada larutan H2SO4 5 %
Tidak bereaksi apa-apa
Tidak ada respon
Sentuhan kaki belakang dan depan dengan sonde yang sudah dipanaskan
Bereaksi, tubuhnya bergerak
Ada respon
Sentuhan bagian ventral tubuh dengan sonde yang sudah dipanaskan
Bereaksi, tubuhnya bergerak
Ada respon

3.      Refleks tendon pada manusia
Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk table berikut ini.
Nama
Respon gerakan kaki
Respon gerakan tangan
Keterangan
M. Hasanudin
Kaki menendang
Tangan terangkat
Normal
Sofi Yulianti
Kaki menendang
Tangan terangkat
Normal
Siti Solihah
Kaki menendang
Tangan terangkat
Normal
Neng Ulpah
Kaki menendang
Tangan terangkat
Normal
 Mia Ratnasari
Kaki menendang
Tangan terangkat
Normal

4.      Pertanyaan
Refleks pada katak
a.       Pada katak yang telah didekapitasi apakah masih sanggup merespon setiap rangsangan yang diberikan ?
Jawab :
Tidak, hanya beberapa respon saja yang ada responnya. Karena, katak tersebut hanya memiliki spinal frog dan tidak ada otaknya sehingga beberapa sistem sarafnya rusak atau reganggu sehingga pada akhirnya ketika kami berikan beberapa rangsangan tidak semua respon diberikan.
b.      Apakah yang dimaksud dengan refleks ? jelaskan bagaimana mekanismenya !
Refleks adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsang .
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar.
F.     Pembahasan
1.      Pada kegiatan praktikum yang telah dilakukan dapat di jelaskan bahwa setiap rangsangan yang diberikan pada katak normal akan memberikan respon atau gerakan yang terarah, karena pada katak normal system saraf masih melakukan koordinasi yang normal antara saraf pusat dengan saraf tepi.sehingga tanggapan yang dilakukan oleh katak normal akan serempak bereaksi. Hal tersebut sesuai dengan dasar teori pada percobaan system saraf, bahwa apabila suatu bagian tubuh dirangsang makan bukan bagian itu saja yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut tetapi dapat juga bagian tubuh yang lain hal itu terjadi Karena bila suatu reseptor  dirangsang cukup kuat, maka rangsangan tersebut diteruskan melalui system saraf aperen di pusat, dipusat rangsangan tersebut diteruskan melalui beberapa saraf asesoris, menuju ke beberapa saraf eferen dan lebih dari satu efektor. Jadi apabila saraf aferen terangsang, efektor-efektor tersebut akan serempak bereaksi.
Sedangkan pada katak yang sudah di dekavitasi gerakan atau  tanggapan yang dilakukan oleh katak tidak terarah karena hal ini berkaitan dengan system saraf pusat pada katak telah di dekavitasi, sehingga koordinasi yang terjadi antara system saraf pusat dengan tepi tidak berjalan secara normal hanya bagian system saraf tepi saja yang melakukan respon terhadap rangsangan yang diberikan.
2.      Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar, terhadap suatu stimulus tertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron, membentuk suatu busur refleks.  Dua neutron aferen, sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris, atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di antara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) , sehingga menyebabkan otot lutut terentang. Apabila tempurung lutut tiba-tiba membengkok , gerakan ini akan merentangkan otot quadriseps sehingga melahirkan refleks yang menyebabkan quadriseps berkontraksi. Akibatnya terjadi perentangan lutut.
G.    Kesimpulan
Jadi, setelah kami melakukan pengamatan dapat disimpulkan bahwa katak dapat bergerak refleks dan merespon sepenuhnya apabila sistem sarafnya dalam keadaan lengkap.  Kemudian katak tidak sepenuhnya dapat bergerak refleks dan merespon semua rangsangan apabila sistem saraf katak sudah tidak lengkap. Karena, sistem kerja saraf aferen apabila terangsang akan mengeluarkan efektor-efektor yang akan serempak bereaksi. Apabila saraf aferennya sudah tidak ada,  maka akan berlaku sebaliknya.