LAPORAN KULIAH LAPANGAN FISIOLOGI
HEWAN
SYARAF
Di
ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum fisiologi hewan
yang di ampu oleh Siti Nurkamilah M.Pd.
Kelompok
5
3B
Mia
Ratnasari (14541053)
Siti
Solihah (14541055)
Sofi
Yulianti (14541056)
Hasni
safitri (14542001)
Muhamad
Hasanudin (14542004)
Ajeng
Nur Aropah (14542000)
Neng
Ulpah Hasanah (14542039)

LABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN (STKIP) GARUT
2017
LAPORAN KULIAH LAPANGAN
FISIOLOGI HEWAN UPI BANDUNG
SISTEM SARAF (REFLEKS
PADA Rana pipiens)
A.
Tujuan
1. Untuk
mempelajari refleks normal dan spinal pada katak normal
2. untuk
mempelajari refleks spinal pada katak yang di dekapitasi
3. mempelajari
refleks tendon pada patella manusia
B.
Landasan
Teori
Sistem saraf mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan fungsi-fungsi jaringan lain dalam tubuh. Jaringan saraf
terdiri atas macam-macam jenis sel neuron dan sel glia yang berasal dari
neuroepitel embrional. Sistem saraf sebenarnya dua sistem yang struktur dan
fungsi saling berhubungan. Sistem saraf pusat (SSP) yang mencakup otak dan
medula spinalis, dan sistem saraf tepi (SST), yang mencakup saraf dan ganglion
yang terbesar diseluruh bagian tepi tubuh. Neuron merupakan dasar unsur sel
sistem saraf. Struktur neuron sangat bervariasi. Sel glia seperti glia seperti
astrosit dan sel Schwann, melakukan fungsi tambahan yang tidak berkaitan dengan
komunikasi. Sinapsis adalah tempat hubungan anatomik dan fungsional antarneuron
( Johnson, Kurt E. , 1994: 215).
Lintasan impuls saraf dari reseptor
sampai efektor disebut lengkung refleks. Apabila suatu saraf diberi rangsangan
, maka sel saraf akan merespon yaitu mengubah energi rangsangan menjadi energi
elektrokimia impuls saraf yang akan
dirambatkan sepanjang serabut saraf. Rambatan impuls saraf ini tidak dapat
diamati dengan mata seperti kontraksi otot (Nukmal, Nismah, 2012 :14). Saraf
spinal timbul dari saraf tunjang sebagai sebuah akar dorsal dan akar ventral
yang kemudian bersatu membangun saraf spinal.Pada akar dorsal terdapat ganglion
spinal dan akar dorsal ini terutama sensoris., sedangkan akar ventral motoris.
Tidak jauh sesudah munculnya kanalis vertebralis, setiap saraf spinal
sekurang-kurangnya akan pecah menjadi dua cabang. Sebuah ramus dorsal mensuplai
otot epaksial dan kulit punggung. Sistem saraf otonom merupakan bagian dari
sistem saraf periferi yang mengontrol aktivitas lingkungan dalam yang biasanya
involuntary, seperti denyutan jantung, gerakan peristaltik dan berkeringat.
Dibangun oleh neuron motoris yang menuju otot polos di organ-organ interna.
Sistem saraf otonom terdiri atas neuron preganglionik yang meninggalkan sistem
saraf pusat melalui akar ventral dari saraf segmental sebelum mengadakan
sinapsis dengan neuron postganglionik yang menuju ke efektornya. Terdapat 2
bagian dari sistem saraf otonom yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatis (Nurcahyani,Nuning, 2005 :
62-66).
Sel saraf bekerja dengan cara
menimbulkan dan menjalarkan impuls (potensial aksi). Impuls dapat menjalar pada
sebuah sel saraf, tetapi juga dapat menjalar ke sel lain dengan melintasi
sinaps. Penjalaran impuls melintasi sinaps dapat terjadi dengan cara transmisi
elektrik atau transmisi kimiawi (dengan bantuan neurotransmitter) (Isnaeni,
2006: h. 82). Komunikasi antara satu neuron dengan neuron lainnya atau dengan
otot dan kelenjar melalui proses transmisi sinaptik. Pada transmisi sinptik
terjadi sinaps (hubungan) dimana akson dari suatu neuron sel presinaps akan
berhubungan dengan dendrit, akson, atau badan sel neuron postsinaps. Terdapat
dua jenis transmisi sinaptik: transmisi sinaptik elektrik dan transmisi
sinaptik kimiawi (Halwatiah, 2009: h. 29).
Menurut
(Pratama, 2012) berdasarkan fungsinya sistem saraf dapat dibedakan atas tiga
jenis :
1) Sel saraf sensorik adalah sel saraf yang
membawa impuls berupa rangsangan dari reseptor (penerima rangsang), ke sistem
saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik disebut
dengan sel saraf indera, karena berhubungan dengan alat indera.
2) Sel saraf motorik adalah sel saraf yang
membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum
tulang belakang) menuju ke atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga
dengan sel saraf penggerak karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat
gerak.
Refleks adalah suatu respon organ
efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar,
terhadap suatu stimulus tertentu. Respon
tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron,
membentuk suatu busur refleks. Dua
neutron aferen, sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris , atau
efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di
antara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan
berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana
adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang
yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) , sehingga
menyebabkan otot lutut terentang. Kenyataan bahwa aksi refleks ini tidak
memerlukan kontrol kesadaran dapatlah ditunjukkan dengan seekor hewan, misalnya
katak, yang otaknya telah diambil dengan cara memotong korda spinalis. Seekor
hewan yang telah diputuskan kolumna spinalisnya disebut hewan spinal, karena
semua aktivitas arah kandal dari lokasi pemotongan itu pastilah hanya karena
korda spinalisnya, tidak lagi ada hubungan dengan otak. Katak amatlah berguna
untuk mendemostrasikan refleks spinal karena periode shock spinal yang
menghilangkan aktivitas refleks dan membuat katak menjadi lumpuh, berlangsung
hanya dalam beberapa menit saja. Setelah pulih dari shock spinal, hewan akan
menarik sebuah kakinya apabila diberi stimulus seperti misalnya rangsangan
listrik atau diberi sedikit asam lemah (Frandson, 1992 :158 ).
Sel saraf penghubung disebut juga dengan
sel saraf konektor. Hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan
dari sel saraf sensoris ke sel saraf ke
sel saraRefleks terjadi lewat suatu lintasan tertentu disebut lengkung refleks,
dengan komponen reseptor, neuron sensorik, neuron penghubung (di dalam otak dan
medulla spinalis), neuron motorik dan efektor. Sebagian besar merupakan refleks
yang rumit, melibatkan lebih dari satu neuron penghubung (Tim Dosen, 2012: h.
8).
Menurut
(Hala, 2007: h. 88) fungsi utama sistem saraf adalah :
1. Untuk mendeteksi, menganalisa,
menggunakan, dan menghantarkan semua informasi yang ditimbulkan oleh rangsang
sensoris (seperti panas dan cahaya) dan perubahan mekanis dan kimia yang
terjadi di dalam lingkungan internal dan eksternal.
2. Untuk mengorganisir dan mengatur, baik
secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian terbesar fungsi tubuh,
terutama kegiatan motoris, visceral, endokrin dan mentalf motorik.
Pada tingkat yang paling sederhana,
organisasi sistem saraf hanya tersusun atas sebuah neuron dengan dendrit dan
akson.Meskipun masih sangat sederhana, dengan susunan sistem saraf yang
demikian ternyata hewan mampu menanggapi berbagai perubahan di lingkungannya
(Isnaeni, 2006: h. 78). Neuron tersusun dalam sirkuit yang terdiri dari dua
atau atau lebih jenis fungsional. Sirkuit neuron yang paling sederhana hanya
melibatkan sinapsis antara dua jenis neuron, neuron sensoris dan neuron motoris.
Masing-masing neuron sensoris mengirimkan sinyal dari reseptor sensoris ke
neuron motoris, yang selanjutnya mengirimkan sinyal ke efektor. Hasilnya
seringkali adalah suatu respons otomatis yang sederhana, yang disebut refleks
(Campbell, 2004: h. 202).
Gerak refleks merupakan respon yang
cepat dan tidak disadari terhadap perubahan lingkungan interna maupun eksterna.
Refleks dikendalikan oleh sistem saraf yaitu otak (disebut refleks kranial)
atau medula spinalis (disebut refleks spinal) lewat saraf motorik kranial dan
spinal. Saraf kranial dan saraf spinal dapat berupa saraf somatik yang
mengendalikan refleks otot kerangka atau saraf otonom yang mengendalikan
refleks otot plos, jantung dan kelenjar. Meskipun refleks spinal dapat terjadi
tanpa keterlibatan otak, tetapi otak seringkali memberikan pertimbangan dalam
refleks spinal. Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun
kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar, terhadap suatu stimulus
tertentu. Respon tersebut melibatkan
suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron, membentuk suatu
busur refleks. Dua neutron aferen,
sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris , atau efektor. Umumnya
satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di antara neuron
reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan berbagai bagian
otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana adalah refleks
spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang yang digambarkan
dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) , sehingga
menyebabkan otot lutut terentang.
Pada dasarnya semua sel memiliki sifat
iritabilitas, artinya sel dapat menanggapi (merespon) rangsangan yang sampai
kepadanya. Sifat tersebut tampak masih sangat menonjol pada sel otot dan sel
saraf. Sel otot akan menunjukkan respon apabila padanya diberi rangsangan lewat
saraf atau langsung pada otot. Respon yang ditunjukkan oleh sel otot umumnya
berupa kontraksi otot, sedangkan respon yang pada sel saraf tidak dapat
diamati, sebab berupa proses pembentukan potensial aksi yang kemudian
dirambatkan berupa impuls. Adanya respon sel saraf hanya dapat diamati pada
efektornya.
C.
Alat
dan bahan
1. Alat
|
No.
|
Alat
|
Gambar
|
|
1.
|
Akuarium
|
|
|
2.
|
Bak bedah
|
|
|
3.
|
Statif
|
|
|
4.
|
Rantai penggantung
|
|
|
5.
|
Sonde / pengaduk
gelas
|
|
|
6.
|
Gunting bedah
|
|
|
7.
|
Palu
|
|
|
8.
|
Kursi
|
|
2. bahan
|
No.
|
Bahan
|
Gambar
|
|
1.
|
Satu ekor katak
|
|
|
2.
|
Larutan HNO3
encer
|
|
|
3.
|
Larutan H2SO4 1%
|
|
|
4.
|
Larutan H2SO4 3%
|
|
|
5.
|
Larutan H2SO4 5%
|
|
|
6.
|
Larutan HNO3
pekat
|
|
|
7.
|
Larutan fisiologis (NaCl 0,6%)
|
|
D.
cara
kerja
Refleks pada Katak
1. katak
normal
a. peganglah
katak yang masih hidup dengan tangan kiri dan genggamlah kedua kaki
belakangnnya, kemudia dekatkan gelas pengaduk atau sonde pada dareah mata.
Amati refleks yang terjadi!
b. Sentuh
nares eksterna pada katak tersebut dan perhatikan gerakannya.
c. Usaplah
bagian tenggorokan sampai bagian perut dan perhatikan gerak anggota badan
anterior.
d. Goreslah
atau sentuhlah bagian lateral atau dorsal tubuh katak, apakah katak tersebut berbunyi!
e. Peganglah
kedua kaki depannya dan biarkan kedua kaki belakang bebas, kemudia goreskan
gelas oengaduk atau sonde yang telah dicelupkan kedalam HNO3 encer pada
punggungnya. Amati apa yang terjadi!
f. Lakukan
perlakuan seperti poin e dengan menggunakan larutan :
- H2SO4 1%
- H2SO4 3%
- H2SO4 5%
Perhatikan apa yang
terjadi!
2. Katak
yang telah didekapitasi
Seekor katak yang telah
dihilangkan otaknya disebut katak yang hanya memiliki spinal (spinal frog) atau
katak didekapitasi.
a. Masukan
gunting bedah pada mulut katak dan angkat kepalanya, kemudian guntinglah
dibawah membran timpani.
b. Tutuplah
ujung potongan tersebut dengan kapas dan gantung katak tersebut pada katak
statif dengan mengkait rahang bawahnya.
c. Tetesi
kapas dengan larutan fisiologis (NaCl 06%) agar kesadarannya pulih kembali.
d. Setelah
katak siuman, masukan katak tersebut kedalam akuarium, perhatikan gerakannya.
e. Terlentangkan
katak pada bak bedah perhatikan apakah katak berusaha untuk membalikan badannya
atau tidak.
f. Letakkan
katak pada bidang miring, perhatikan gerakannya.
g. Gantunglah
katak pada bagian rahang bawahnya.
h. Lakukan
sumasi dengan rangsang dengan zat-zat kimia seperti berikut :
-sediakan 13 beaker
yang masing-masing berisi larutan H2SO4 1%.3% dan 5%.
-celupkan ujung jari
katak pada larutan H2SO4 1%, 3% dan 5% secara berurutan.
-ulang beberapa kali
sampai terjadi respon.
i.
Sentuhlah jari kaki
belakang dengan sonde yang sudah dipanaskan. Perhatikan reaksinya.
j.
Sentuh pula bagian
ventral atau perutnya dengan sonde yang sudah dipanaskan. Bagaimana reaksinya.
Refleks
pada manusia
a. Duduklah
seorang praktikan pada kursi dan biarkan salahsatu kakinya dalam keadaan bebas
atau santai;
b. Pukullah
ligamentum patellanya di bawah tempurung lutut dengan palu atau alat pemukul
lainya;
c. Perhatikan
gerakan kaki tersebut
E.
Hasil
Pengamatan
1. Katak
normal
|
Jenis
rangsang
|
Tanggapan yang
diberikan
|
Keterangan
|
|
Sentuhan
sonde/pengaduk
|
Mata mengedip dan
membuka menjadi bulat serta membrane niktitans nya dapat terlihat
|
Ada respon
|
|
Sentuhan nares eksterna
|
Berkedip dan bergerak
|
Ada respon
|
|
Usapan bagian
tenggorokan sampai perut
|
Tidak berbunyi
|
Tidak ada respon
|
|
Goresan sonde pada
bagian ventral dan dorsal
|
Kakinya meloncat dan
tubuhnya bergerak
|
Ada respon
|
|
Goresan sonde yang
telah dicelupkan pada larutan HNO3
|
Badan, kaki, dan
tangan bergerak.
|
Ada respon
|
|
Goresan sonde yang
telah dicelupkan pada larutan H2sO4 1 %
|
Reaksi pada ujumg
jari dari terbuka menjadi rapat
|
Ada respon
|
|
Goresan sonde yang
telah dicelupkan pada larutan H2sO4 3 %
|
Reaksi pada ujung
jari dari terbuka menjadi lebih rapat
|
Ada respon
|
|
Goresan sonde yang
telah dicelupkan pada larutan H2sO4 5 %
|
Reaksi pada ujumg
jari sangat cepat dari terbuka menjadi lebih rapat
|
Ada respon
|
2. Katak
yang telah didekapitasi
|
Jenis
rangsang
|
Tanggapan yang
diberikan
|
Keterangan
|
|
Akuarium
|
Tidak berenang
|
Tidak ada respon
|
|
Diterlentangkan
|
Tidak membalikan diri
|
Tidak ada respon
|
|
Disimpan dibidang
miring
|
Tidak bergerak
|
Tidak ada respon
|
|
Ujung jari katak dicelupkan
pada larutan H2SO4 1 %
|
Tidak bereaksi
apa-apa
|
Tidak ada repon
|
|
Ujung jari katak
dicelupkan pada larutan H2SO4 3%
|
Tidak bereaksi
apa-apa
|
Tidak ada respon
|
|
Ujung jari katak
dicelupkan pada larutan H2SO4 5 %
|
Tidak bereaksi
apa-apa
|
Tidak ada respon
|
|
Sentuhan kaki
belakang dan depan dengan sonde yang sudah dipanaskan
|
Bereaksi, tubuhnya
bergerak
|
Ada respon
|
|
Sentuhan bagian
ventral tubuh dengan sonde yang sudah dipanaskan
|
Bereaksi, tubuhnya
bergerak
|
Ada respon
|
3. Refleks
tendon pada manusia
Data hasil penelitian
disajikan dalam bentuk table berikut ini.
|
Nama
|
Respon gerakan kaki
|
Respon gerakan tangan
|
Keterangan
|
|
M. Hasanudin
|
Kaki menendang
|
Tangan terangkat
|
Normal
|
|
Sofi Yulianti
|
Kaki menendang
|
Tangan terangkat
|
Normal
|
|
Siti Solihah
|
Kaki menendang
|
Tangan terangkat
|
Normal
|
|
Neng Ulpah
|
Kaki menendang
|
Tangan terangkat
|
Normal
|
|
Mia Ratnasari
|
Kaki menendang
|
Tangan terangkat
|
Normal
|
4. Pertanyaan
Refleks
pada katak
a. Pada
katak yang telah didekapitasi apakah masih sanggup merespon setiap rangsangan
yang diberikan ?
Jawab :
Tidak, hanya beberapa
respon saja yang ada responnya. Karena, katak tersebut hanya memiliki spinal
frog dan tidak ada otaknya sehingga beberapa sistem sarafnya rusak atau
reganggu sehingga pada akhirnya ketika kami berikan beberapa rangsangan tidak
semua respon diberikan.
b. Apakah
yang dimaksud dengan refleks ? jelaskan bagaimana mekanismenya !
Refleks
adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah
adanya rangsang .
Gerak
refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap
rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan
terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh
gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Pada gerak refleks, impuls
melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima
rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh
set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim
tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau
kelenjar.
F.
Pembahasan
1. Pada
kegiatan praktikum yang telah dilakukan dapat di jelaskan bahwa setiap
rangsangan yang diberikan pada katak normal akan memberikan respon atau gerakan
yang terarah, karena pada katak normal system saraf masih melakukan koordinasi
yang normal antara saraf pusat dengan saraf tepi.sehingga tanggapan yang
dilakukan oleh katak normal akan serempak bereaksi. Hal tersebut sesuai dengan
dasar teori pada percobaan system saraf, bahwa apabila suatu bagian tubuh
dirangsang makan bukan bagian itu saja yang bereaksi terhadap rangsangan
tersebut tetapi dapat juga bagian tubuh yang lain hal itu terjadi Karena bila
suatu reseptor dirangsang cukup kuat,
maka rangsangan tersebut diteruskan melalui system saraf aperen di pusat,
dipusat rangsangan tersebut diteruskan melalui beberapa saraf asesoris, menuju
ke beberapa saraf eferen dan lebih dari satu efektor. Jadi apabila saraf aferen
terangsang, efektor-efektor tersebut akan serempak bereaksi.
Sedangkan
pada katak yang sudah di dekavitasi gerakan atau tanggapan yang dilakukan oleh katak tidak
terarah karena hal ini berkaitan dengan system saraf pusat pada katak telah di
dekavitasi, sehingga koordinasi yang terjadi antara system saraf pusat dengan
tepi tidak berjalan secara normal hanya bagian system saraf tepi saja yang
melakukan respon terhadap rangsangan yang diberikan.
2. Refleks
adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat
otomatis atau tanpa sadar, terhadap suatu stimulus tertentu. Respon tersebut
melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron,
membentuk suatu busur refleks. Dua
neutron aferen, sensoris, atau reseptor, dan neuron eferen, motoris, atau
efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak di
antara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatkan
berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana
adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang
yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon) ,
sehingga menyebabkan otot lutut terentang. Apabila tempurung lutut tiba-tiba
membengkok , gerakan ini akan merentangkan otot quadriseps sehingga melahirkan
refleks yang menyebabkan quadriseps berkontraksi. Akibatnya terjadi perentangan
lutut.
G.
Kesimpulan
Jadi, setelah kami melakukan pengamatan
dapat disimpulkan bahwa katak dapat bergerak refleks dan merespon sepenuhnya
apabila sistem sarafnya dalam keadaan lengkap.
Kemudian katak tidak sepenuhnya dapat bergerak refleks dan merespon semua
rangsangan apabila sistem saraf katak sudah tidak lengkap. Karena, sistem kerja
saraf aferen apabila terangsang akan mengeluarkan efektor-efektor yang akan
serempak bereaksi. Apabila saraf aferennya sudah tidak ada, maka akan berlaku sebaliknya.